Sumber foto : Tim penyusun gabungan dari Seretaris Direktorat Jendral Kebudayaan dan Direktorat pelestaraian Budaya dan Permuseuman, Album Nisan Pasai Jakarta Desember 2012
Oleh : DEVIDA*
Editor : Admin Pelita
Warisan budaya dan sejarah suatu daerah tidak hanya menceritakan kisah masa lalu, namun juga mengungkapkan esensi dari perjalanan panjang manusia yang tumbuh di dalamnya. Ini merujuk kepada segala aspek yang mencakup tradisi, nilai, benda fisik, dan estafet pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Termasuk didalamnya berupa dokumen, artefak dan situs-situs arkeologi, bangunan bersejarah, seni, bahasa, dan adat istiadat sebagai identitas dari suatu komunitas atau bangsa.
Nisan dan tipologi makam, dengan ragam bentuk dan desainnya, sering kali hanya dianggap sebagai penanda kubur dari seseorang yang ada di bawahnya. Akan tetapi jika ditelisik dengan seksama, nisan dan tipologi makam bukan hanya sekadar objek yang menghiasi makam. Lebih dari itu, ia sebenarnya dapat menjadi salah satu elemen penting untuk membuka pintu gerbang menuju pemahaman yang mendalam tentang informasi dari masa lalu. Menjadi katalog visual yang memperkaya narasi suatu periode sejarah dari kebudayaan tertentu.
Di tengah era globalisasi dan pengaruhnya yang merajalela, pelestarian warisan budaya lokal bukanlah pilihan, melainkan sebuah kewajiban untuk menjamin bahwa akar-akar budaya kita tetap hidup dan diwarisi oleh generasi mendatang. Serta merupakan bentuk komitmen untuk menjaga agar warisan budaya tidak terlupakan dan tetap diakui oleh masyarakat yang lebih luas. Hal ini memerlukan pembukaan diri pribadi terhadap keragaman budaya Nusantara sebagai kekayaan yang perlu dilestarikan..
Menariknya, nisan-nisan ini menjadi cermin dari status individu yang terkubur di bawahnya. Setiap nisan menjadi kanvas yang menceritakan bagaimana kematian dipandang, sekaligus mencerminkan hierarki yang pernah ada. Ukuran dan ragam ornamen yang menghiasi nisan dapat menjadi penanda status tinggi kepangkatan seseorang dalam masyarakat. Memberikan pemahaman mendalam tentang struktur sosial yang berkembang di masyarakat pada masa lalu.
Tipologi Nisan: Menggali Persilangan Peradaban.
Kata nisan awal mulanya diserap dari Bahasa Parsi, mizan. Di Minang dan Banjar, kata ini dikenal dengan nama mejan, sedangkan di Jawa dan Sunda nisan dikenal dengan nama paesan atau maesan. Paesan atau maesan berasal dari bahasa Jawa Kuno, pa-hyas yang berarti hiasan. Kata pahyas kemudian berubah menjadi paes dan maes. Dalam perkembangannya pahyas berarti menghias.
Jadi fungsi paesan (nisan) digunakan sebagai tanda peringatan untuk makam dan sekaligus sebagai hiasan makam. Di Indonesia, nisan diartikan sebagai batu atau benda lain berupa bidang yang terdapat pada ujung jirat untuk menuliskan nama orang yang dimakamkan. Nisan pada awalnya terbuat dari kayu, kemudian setelah jiratnya dibangun dari batu, barulah nisan dibuat dari batu. Di Indonesia, nisan kubur ditampilkan dalam berbagai bentuk, di antaranya menyerupai meru, lingga, dan phalus dengan pola yang berbeda-beda.
Nisan, atau batu nisan, digunakan sebagai tanda penghormatan bagi para leluhur dan individu yang telah meninggalkan dunia ini. Nisan juga bisa menjadi bentuk seni simbolisme yang memiliki akar dalam berbagai budaya dan sejarah manusia.
Di Desa Pananggahan, Kecamatan Barus Utara, Sumatera Utara, terdapat bukit dengan ketinggian kurang lebih 720 Meter diatas permukaan laut. Di atasnya ada sebidang tanah datar sekitar 20 x 15 Meter, di sana terdapat 8 makam dan hanya satu yang memiliki inskripsi berbahasa Arab, yaitu Makam Syekh Mahmud Al-Muhtazam atau Syekh Mahmud Barus. Makam tersebut memiliki panjang 8,15 meter, dengan tinggi nisan 135 sentimeter. Warga menamakan makam tersebut sebagai makam Papan Tinggi.
Dalam komplek Makam Papan Tinggi tersebut terdapat prasasti yang bertuliskan: “Syeikh Al-Alam Almuchtazam Syeikh Mahmud Qadasyahlahu Rohanu Alamatarach, berasal dari Hadramaut, pada tahun dal min atau 44 H”. Ini merupakan jejak kehadiran Islam pertama di Nusantara. Syekh Mahmud wafat pada tahun 44 Hijriah / 665 Masehi pada masa pemerintahan Muawiyyah bin Abi Sufyan. Sedangkan menurut Hasan Muarif Ambary (1985) batu nisan Syekh Mahmud Barus dilihat dari inskripsi jenis kaligrafi pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Bentuk batu nisannya menggunakan jenis batuan granit putih berbNintik hitam yang menunjukkan batu nisan lokal yang memang berasal dari Barus. Batu nisan tersebut berbentuk pipih dengan bagian kepala berupa lingkaran. Sementara batu nisan penanda kaki makam berbentuk pipih dan bagian kepala dipahat bergelombang. Masyarakat kemudian menyebut makam ini sebagai “titik nol Islam di Nusantara”.
Pada nisan yang ditemukan di Gresik, Jawa Timur, terkuaklah fakta bukti adanya peninggalan kebudayaan Islam tertua di Indonesia. Dari epitaf yang ada di batu nisan tersebut, diketahui nisannya dipahat dengan menggunakan aksara Arab bertuliskan Fatimah binti Maimun. Di situ diterangkan bahwa wanita ini wafat sebagai seorang syahidah pada tahun 1004 Saka, 495 Hijriah (sebagian ada yang membacanya 475 H) setelah dikonversi menjadi 1101 (1082) Masehi. Berdasarkan tahun tersebut, diperkirakan bahwa sang wanita hidup diantara pemerintahan raja Airlangga (di Jawa Timur) yang turun tahta pada tahun 1042 Masehi dengan masa pemerintahan raja-raja Kediri yang mulai berkuasa tahun 1222 Masehi.
Menurut sumber dari Naskah Pustaka Pararatwan I Bumi Jawadwipa 1.4 atau Naskah wangsakerta. Fatimah adalah cucu Syekh Hibatullah dari Persia yang datang ke pulau Jawa, kemudian menuju bumi Sumatra. Beliau menikah dengan Sayid Abu Hasan orang kaya asal Sumatra tinggal di Jawa Timur. Dari pernikahan mereka lahir beberapa anak, di antaranya Sayid Abdurahman tinggal di Kota Tarim Yaman, Arab sebelah selatan, mempunyai beberapa anak salah seorang diantaranya perempuan bernama Sarah, diperistri oleh Sayid Abdul Malik.
Hal ini menjadi bukti bahwa di tengah masa antara dua mata rantai sejarah ini telah terjadi hubungan antara orang dari pulau Jawa dengan orang dari jazirah Arab. Dapat dipastikan bahwa hubungan daganglah yang memungkinkan terjadinya pertemuan antara bangsa muslim di belahan barat dengan orang dari timur yang dahulunya banyak menganut agama Hindu dan Buddha. Karena Fatimah binti Maimun merupakan seorang wanita yang terikat pada adat maka kuatlah dugaan bahwa orang Islam dari tanah Arab atau sekitamya yang datang ke daerah Gresik.
Dari uraian singkat nisan Barus dan nisan Gresik diatas, batu nisan bukan sekedar petanda kubur belaka, batu nisan bisa sebagai penanda masalalu yang punya kaitan erat hubungan antar manusia di pusaran peradaban dunia. Menyimpan informasi penting tentang perjalanan leluhur ‘manusia Indonesia’ bukan sekedar cerita penaklukkan wilayah yang heroik, namun bagaimana hubungan antar bangsa menjadi faktor pendorong akulturasi budaya menghasilkan peradaban tinggi.
*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institute Pesantren Babakan Cirebon (IPEBA), Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (PAI).

Comments Closed