Oleh : Husein Muhammad*
Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Pesan kerahmatan (baca ; kasih sayang) dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam baik al-Qur-an maupun hadits. Kata rahmah, rahman, rahim yang berarti welas-asih, dan derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar, lebih dari 90 ayat. Bahkan Rahman dan Rahim, dua kata yang diambil dari kata rahmat adalah nama-nama Tuhan sendiri. Nabi saw pernah menyatakan :”Sayangilah siapa saja yang ada di muka bumi, niscaya Tuhan menyayangimu”. Tuhan menyebut dirinya Maha Kasih, Maha Sayang : ‘Ana al Rahman, Ana al Rahim”. Tidak sekalipun Dia menyebut : “Ana Al-Ghadhub’, Aku Sang Pemarah.
Al-Qur’an, sumber Islam paling otoritatif, menyebutkan missi kerahmatan ini : “wa ma arsalnaka illa rahmatan li al ‘alamin”, Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta. Ibnu al-Manzhur, ahli bahasa terkemuka, mengatakan bahwa kata “rahmat” mengandung makna kepekaan hati (riqqah al-qalb), kelembutan hati (al-ta’athuf) dan mudah memberi maaf (al-maghfirah).
Al-Qur’an juga menegaskan : “Wa Rahmati Wasi’at Kulla Syai” (Rahmat Tuhan meliputi segala hal).(Q.S. 7:156). Para ahli tafsir sepakat bahwa rahmat Allah mencakup orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, orang baik (al birr) dan yang jahat (al fajir) serta semua makhluk Allah. Ibnu Abbas, ahli tafir awal, mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir.
Fungsi kerahmatan semesta ini dielaborasi oleh Nabi Muhammad Saw melalui pernyataannya : “Aku diutus Tuhan hanya untuk menyempurnakan akhlak yang luhur”. Akhlak luhur adalah moral dan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti kejujuran, keadilan, keikhlasan, menghomati dan menyayangi orang lain dan sebagainya. Kekerasan, kezaliman, kesombongan, caci maki dan berkata-kata kasar adalah berlawanan secara diametris dengan “al-Akhlak al-Karimah”.
Tuhan telah memberikan kesaksian-Nya terhadap kepribadian Nabi saw yang agung tersebut:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ .
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.(Q.S.Ali Imran [3] :159).
Tuhan juga mengatakan :
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ اِلَّا بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. “Janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab (Yahudi dan nasrani) kecuali dengan cara yang lebih baik”.(Q.S. 29:46).
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ. إِدْفَعْ بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ. فَإِذاَ الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاَوةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ.
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia”.(Q.S.41:34.
Kerahmatan Islam juga berarti menghormati orang lain, termasuk yang berbeda agama, bukan hanya ketika dia masih hidup, bahkan juga ketika sudah mati. Sahl bin Hanif dan Qais bin Sa’ad, dua sahabat Nabi, mengatakan suatu saat ada jenazah melewati Nabi. Beliau tiba-tiba saja berdiri. Nabi diingatkan bahwa jenazah tersebut adalah seorang Yahudi. “alaisat nafsan”(bukankah ia adalah manusia)?”, jawab Nabi.
Toleransi dan Dialog antar Agama
Toleransi (al-Tasamuh) mengandung makna suatu sikap mental dan cara bertindak yang tidak memaksakan kehendak terhadap orang yang tidak sejalan dengan keyakinan dan pemikiran dirinya. Dalam taraf yang lebih tinggi, toleransi adalah sikap menghargai dan menyambut “liyan”, dengan hangat, meskipun berbeda dengan dirinya. Sebagian orang menganggap bahwa mengakui pluralisme, toleransi (tasamuh) dan dialog antar agama sama artinya dengan mengakui kebenaran agama lain, sama dengan menyamakan agama atau bahkan sama dengan sinkrisisme. Pandangan ini tentu ditolak bukan hanya oleh Islam, tetapi juga oleh pemeluk semua agama. Sikap Islam dalam hal adalah jelas ; “Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku”. Pengakuan atas pluralisme, toleransi dan dialog antar agama sesungguhnya adalah sikap mengakui fakta dan realitas akan eksistensi agama-agama yang dipeluk oleh umat manusia yang berbeda-beda dan yang harus dihormati. Pengakuan atas pluralisme dan toleransi antar umat beragama hanya berarti memberikan penghargaan kepada pemeluk agama untuk menjalankan keyakinannya masing-masing.
Dr. Aisyah al Manna’i, dekan fakultas Syari’ah dan Studi Islam, Universitas Islam Qatar dalam seminar dialog antar agama yang diselenggarakan di Qatar baru-baru ini, mengatakan : ”Adalah kekeliruan besar bahwa dialog antar agama adalah pengakuan terhadap orang lain (beragama lain) dan penerimaan terhadap agamanya. Dialog antar agama tidaklah berarti membenarkan atau merestui keyakinan orang lain, tidak pula membenarkan atau merestui cara-cara ritual mereka. Akan tetapi ia adalah menghargai keyakinan atau agama orang lain dan tidak merendahkannya”. Dalam pernyataan sebelumnya ia mengatakan : “Dialog antar agama dalam rangka kemanusiaan adalah suatu keutamaan dalam Islam. Universalisme Islam mengharuskan kita untuk bekerjasama secara damai dengan semua komponen masyarakat manusia. Islam adalah agama dialog, agama saling memahami, agama damai, toleran dan cinta. Islam tidak pernah menjadi agama perang atau agama pedang. Banyak sekali ayat-ayat al Qur’an yang menegaskan hal-hal seperti ini”.(Baca : Surat Kabar Al Alam al Islamy, No. 2021, Senin, 31 Maret 2008, h. 4).
Jalan Dakwah
Nabi pernah mengatakan bahwa kami tidak pernah diperintahkan untuk memulai perang untuk mengajak orang mengikuti agamanya. Keberhasilannya mengajak orang kafir beriman kepadanya lebih karena sikap hidup, tingkah laku dan tutur katanya yang menawan hati, sebagaimana sudah disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an di atas. Islam mengajarkan kepada kita bahwa mengajak kebaikan haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula, bahkan lebih baik. Para Ulama Islam juga menegaskan suatu norma : “Al-Dharar La Yuzalu bi al-Dharar”, kerusakan tidak boleh dihilangkan atau diatasi dengan cara merusak.
Al-Qur’an menyatakan :
اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِىَ اَحْسَنُ. اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلْمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan bertutur-kata yang baik (nasehat) dan berdialoglah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu sungguh lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(Q.S. al-Nahl, [16]:125).
Dialog yang diajarkan Islam adalah dialog dengan cara bicara yang lebih baik. Ini telah menjadi menjadi cara Nabi dan sahabat-sahabatnya. Ibnu Hisyam, sejarawan terkemuka, dalam kitabnya yang terkenal: “al-Sirah al-Nabawiyyah” menyampaikan peristiw yang sangat menarik. Katanya :
ولما جاء وفد نصارى نجران أنزلهم الرسول e في المسجد ولما حان وقت صلاتهم تركهم يصلون في المسجد فكانوا يصلون في جانب منه ، ولما حاوروا الرسول e حاورهم بسعة صدر ورحابة فكر وجادلهم بالتي هي أحسن ومع أنه أقام الحجة عليهم ولم يكرههم على الدخول في الإسلام بل ترك لهم الحرية في الاختيار ، وقد أسلم بعضهم بعدما رجعوا إلى نجران
“Manakala sejumlah delegasi Kristen Najran datang menemui Nabi, beliau mempersilakan mereka duduk di masjid. Ketika waktu ibadah mereka tiba, beliau membiarkan mereka melaksanakannya di masjid beliau. Mereka sembahyang di bagian masjid. Manakalah mereka kemudian mengajak Nabi berdialog, beliau menghadapi mereka dengan jiwa yang lapang, pikiran yang jernih dan berdiskusi/berdebat dengan cara yang lebih indah. Meskipun mereka kalah, beliau tidak memaksa mereka masuk Islam, bahkan membebaskan mereka untuk memilih. Sebagian diantara mereka masuk Islam ketika kembali ke Najran”. (Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, II/158).
Ketika Ali bin Abi Thalib berangkat ke luar kota bersama teman-temannya, ia melihat orang-orang Yahudi sedang menjalankan sembahyang di sinagog (tempat ibadah) mereka. Kepada para sahabatnya ia mengatakan : “Umirna an Natrukahum wa Ma Yadinun”, (kami diperintahkan Nabi untuk membiarkan mereka menjalankan apa yang mereka yakini).
Penutup
Demikianlah teks-teks Islam dan praktik kenabian berbicara tentang kerahmatan, keadilan dan toleransi. Sayed Hosen Nasr, salah seorang cendikiawan muslim kontemporer terkemuka mengatakan: “Jantung atau inti Islam adalah penyaksian Ke-Esa-an Tuhan, Universalitas, Kebenaran, kemutlakan untuk tunduk kepada kehendak Tuhan, pemenuhan segala tanggungjawab manusia dan penghargaan terhadap seluruh makhluk hidup. Jantung atau inti Islam mengisyaratkan kepada kita untuk bangun dari mimpi yang melalaikan, ingat tentang siapa diri kita dan mengapa kita ada di sini dan untuk mengenal serta menghargai agama-agama yang lain”. .
Maka, sudah saatnya kita semua, terutama para tokoh agama, duduk bersama dalam suasana hati yang tenang dan pikiran yang jernih tanpa prasangka untuk dapat merumuskan kembali agenda bersama dalam kerangka menciptakan relasi manusia yang harmonis, damai dan menyejahterakan. Pertemuan dan dialog antar para pemimpin agama diharapkan akan dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi mendasar dan strategis bagi hubungan baik antar kelompok-kelompok keagamaan dalam ruang internalnya masing-masing, maupun antar para pemeluk agama-agama (relasi eksternal) untuk kehidupan kita hari ini maupun hari esok yang panjang. Para tokoh agama adalah panutan masyarakat. Kepada merekalah rakyat dan masa depan bangsa ini ditambatkan dan digantungkan. Sebuah pepatah mengatakan : “al-Naas ‘ala Dini Mulukihim”. Cara hidup dan berkehidupan rakyat adalah cara hidup para pemimpinnya. Imam al-Ghazali, mengutip para bijakbestar mengatakan : “Kelakuan rakyat adalah produk dari kelakuan para pemimpin mereka. Karena mereka (rakyat) belajar dari mereka dan mematuhi mereka”. (Al-Tibr al-Masbuk).
Ahmad Amin, penulis Mesir terkemuka mengatakan : “Keteladanan memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Setiap perbaikan yang terjadi pada individu maupun masyarakat lebih banyak didasarkan oleh model teladan”.
Cirebon, 14-Desember 2013-12-14
*Penulis adalah Dewan Pendiri Fahmina Institute Cirebon, Komisioner Komnas Perempuan Jakarta dan Pembina PELITA.
*Sumber gambar: www.slideshare.net
