Lompat ke konten

Artikel

Simfoni Malam Perayaan Imlek

Oleh: Raditiya Indira Padma

Pukul 20.00, tanggal 8 Februari 2016, hari Minggu pertama dalam bulan Februari, hujan telah reda, dan saya dan teman-teman sedikit bergegas untuk menuju Wihara Welas Asih dalam rangka ikut merayakan hari raya tahun baru Imlek. Ya, saya dan teman-teman dari PELITA Cirebon mendapat undangan untuk ikut merasakan suka-cita yang sedang dirasakan oleh saudara-saudara Tionghoa. Dan dengan senang hati kami memenuhi undangan tersebut sambil berharap-harap cemas apakah kami akan mendapatkan amplop berwarna merah dengan isi selembaran berwarna merah juga atau tidak. Dan ternyata tidak.

Ikeda, Agama dan Perdamaian*

Oleh: Syaiful Arif*

Di tengah ancaman konflik dan terorisme yang melanda negeri dan dunia, kita bisa belajar banyak dari pemikiran serta gerakan perdamaian yang dibawa oleh Daisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai Internasional (SGI). Artikel ini ditulis dalam rangka merefleksikan peran penting gerakan beliau, sebagaimana Proposal Perdamaian yang ditulis setiap tanggal 26 Januari untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Panjang Jimat dan Kearifan Lokal

Oleh: Haryono Direja “Panjang Jimat” diartikan secara sederhana sebagai ritus ekspresi kebudayaan masyarakat Cirebon.  Istilah tersebut diambil dari derivasi dua frase yang berbeda dari bahasa Cirebon, “Pajang” berarti memajang; memasang, sedangkan “Jimat” senantiasa lekat dengan… 

Tantangan dan Tanggapan Islam dalam Menjawab Modernitas

Oleh: Yose Rizal Triarto

***

Pada tahun 1903, salah satu sarjana pakar keislaman dari Amerika Serikat, Duncan Black MacDonald (1863-1943) menulis bahwasanya Islam yang sekarang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan sistem pemerintahan konstitusi. Menurut dia, khalifah Islam tidak akan mendirikan suatu sistem pemerintahan yang mana sistem tersebut memungkinkan untuk melawan atau membatasi kekuasaan khalifah. Khalifah, sebagai penerus nabi seharusnya mempunyai kekuasaan yang absolut dalam memerintah.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Duncan tadi tentu saja tak semuanya benar. Terbukti beberapa tahun setelahnya, muncul gagasan yang berkebalikan dengannya. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi menyatakan bahwa mereka mendukung sistem pemerintahan konstitusi.

Sesungguhnya, timbulnya gagasan seperti tokoh Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi di atas tidak terlepas dari gerakan modernisasi Islam, yang mana gerakan ini muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh. Gerakan modernisasi Islam ini mencoba unutk menyesuaikan ajaran-ajaran dan prinsip Islam dengan nilai-nilai modern sekarang, seperti nasionalisme, demokrasi, konstitusi, penyelidikan ilmiah, dan nilai-nilai lainnya. Di sini tokoh-tokoh seperti di atas, melihat bahwasanya perbedaan tensi atau ketidak sesuaian ajaran Islam dengan nilai-nilai modern bukanlah disebabkan dari prinsip dasar Islam sendiri, melainkan lebih karena faktor historitas atau sejarah. Maka dengan munculnya era modernisasi dari barat, dan menyadari ketertinggalan ummat Islam dari bangsa-bangsa lainnya, gerakan modernisasi Islam ini menjadi sebuah kebutuhan dan kepentingan untuk Islam sekarang.

Meneladani Muhammad; Penebar Kasih yang Toleran dan Integralis

Oleh: Neneng Alfiah*

Sosok manusia agung dan mulia, ialah Muhammad SAW., yang menjadi tonggak kepemimpinan umat manusia dalam menyebarkan nilai-nilai dan ajaran islam bagi setiap bani adam. Muhammad adalah kekasih sekaligus utusan Allah bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Pada hari ini, Kamis 24 Desember 2015, merupakan salah satu waktu yang diperingati umat muslim sebagai peristiwa paling bersejarah atas kelahiran tokoh panutan hidup bagi umat muslim, yakni peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kata maulid berasal dari bahasa arab yang berarti lahir.

Kelahiran Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul ‘Awwal. Muhammad lahir tepat pada Hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal di Tahun Gajah atau pada tanggal 22 April 571 Masehi. Bentuk dan waktu peringatan yang dilakukan umat muslim dalam memperingati Maulid Nabi pun berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang berlangsung sangat meriah, dan ada pula yang berlangsung sederhana.

***

Sejarah Keragaman & Identitas di Jawa Barat

Oleh: Abdurrahman Wahid

Jawa Barat, sebagai wilayah provinsi yang memiliki demografi cukup luas, memilki pula sejarah panjang bagaimana awal mula ia terbentuk. Secara lebih spesifik, Nurdin M Noor, budayawan asal Cirebon, membuka cakrawala pengetahun dengan tema materi “sejarah Identitas Jawa Barat”. Tema ini berangkat, salah satunya, merespon isu aktual yang tengah jadi perdebatan hangat di kalangan akademisi, tentang penggubahan nama Jawa Barat dengan nama provinsi Pasundan.

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Lio

Oleh: Diaz Alauddin (Peneliti, Pegiat PELITA) Mayoritas penduduk Desa Fatamari, dan Kelurahan Watuneso yang ada di Kabupaten Ende, serta Desa Bu Utara dan Desa Masebewa dari Kabupaten Sikka adalah beragama Katolik. Awal mula agama Katolik… 

Bahtera Untukmu

Oleh: Lika Vulki

Di pesisir pantai Utara Aceh yang menjadi daerah industri, Lhokseumawe 23 tahun yang lalu sering disebut kota dolar. Di antara barisan pabrik penghasil pupuk Urea, minyak, dan kertas; ada sebuah keluarga kecil yang berasal dari Kuningan (Jawa Barat). 23 tahun silam saat masa-masa kejayaan Lhokseumawe, lahirlah seorang gadis mungil dari keluarga itu. Lika Vulki, begitulah nama yang diberikan oleh ayahnya.