Oleh : Rini Kustiasih
Sapu lidi di genggaman Daniel Jaya (14) kokoh menghalau daun-daun kering dan sisa plastik di pelataran Keraton Kanoman Cirebon, Jawa Barat, Minggu (24/6) siang. Debu bergumul menyumbat pemandangan dan daun-daun itu seolah berontak.
Hari itu, Daniel dan sekitar 30 anak muda lainnya yang bergabung dalam Pemuda Lintas Iman (Pelita) Cirebon bekerjasama membersihkan kompleks Keraton Kanoman Cirebon. Mereka menyiapkan segala sesuatunya sejak sehari sebelumnya, yaitu mulai dari ransum untuk peserta sampai peralatan kebun seperti sabit, sapu lidi, sapu serabut, kain pel, dan wadah sampah. Devida, Ketua Pelita Cirebon, yang mengomandonya.
Rekan-rekan mereka yang beragama Hindu memasak makanan sejak Sabtu malam. lalu, rekan-rekan Buddha membawa peralatan bersih-bersih lengkap. Mereka secara khusus menumpang mobil pikap L-300 untuk membawa peserta dan segala peralatannya. Panas pesisir yang terik rupanya tak menciutkan semangat mereka bersih-bersih bersama, berpanas-panasan ria bersama.
Begitu juga rekan dari Katolik dan Kristen dan Kristen yang jumlahnya paling banyak dalam kerja bakti itu. Sementara itu, dari Islam antara lain datang utusan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cirebon, ketua cabangnya sendiri, Enja Warjanam yang kali ini datang bersimbol lengkap.
Selama dua jam, kompleks Keraton Kanoman “diubek” dan dibersihkan. Bangsal Jinem yang selama ini jadi tempat Sultan Muhammad Emirudin menerima tamu dan menghadiri upacara besar, seperti mauludan, disapu berkali-kali.
“Ini baru kali pertama Keraton Kanoman didatangi kelompok pemuda yang secara khusus ingin bekerja bakti disini. Lebih-lebih, ini dari pemuda lintas iman. Silahkan sering-sering datang kesini. Keraton terbuka untuk diskusi lintas agama, kegiatan sosial, dan aktivitas pemuda. Keraton milik kita semua.” Sambut Patih Keratoon Kanoman M Qodiran yang mewakili Sultan.
Sambil lesehan, patih kerajaan yang masih muda usia itu mengenangkan sedikit benih-benih pluralismeyang ditanamkan Syarif Hidayatullah sejak abad XIV. Mula-mula ia bercerita soal istri Sultan Kerajaan Pakungwati (nama awal Kerajaan Cirebon), itu bernama Ong Tien. Ia tak lain adalah putri dari kerajaan Tioongkok.
Pribadi Syarif Hidayatullah sendiri sudah lintas kultural. Menurut buku Babad Cirebon yang ditulis Ahmad Hammam Rochani, ayah Syarif Hidayatullah berasal dari Mesir. Adapun ibunya keturunan Padjajaran.
Jati diri yang lintas kultural itu, menurut Qodiran, menjadi landasan kenapa bengunan keraton seperti “campur aduk.” Di pojok kiri pintu gerbang ada bangunan dengan lonceng di atasnya. “itu simbol lonceng gereja,” kata Qodiran. Tepat bersebelahan dengan bangunan lonceng itu, dibangunlah mushala.
Perekat
Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cirebon Yohanes Muryadi mengatakan, melalui acara kerja bakti itu anak-anak muda kembali menelisik sejarah keberagaman yang dipelihara di Cirebon. segala syak-wasangka luruh dengan sendirinya ketika mereka melihat bahwa perbedaan ternyata tiada guna dipertentangkan. Bahkan perbedaan itu di pelihara dan diekspresikan melalui simbol-simbol.
“Kerja bakti ini sekaligus menunjukkan perbedaan itu bukan penyekat, melainkan perekat. Dengan bekal perbedaan itulah, anak-anak ini datang membersihkan dan menengok kembali sejarah panjang keberagaman di Cirebon,” katanya.
Pada masanya, keraton di Cirebon pernah menjadi sentral keagamaan, kemasyarakatan, dan pemerintahan. Sekalipun kini sudah tak lagi memiliki kekuasaan, namun banyak warisan budaya dan kearifan yang bisa dipetik dari perjalanan kesutanan di Cirebon. salah satunya ialah penghargaan terhadap perbedaan dan keberagaman suku, adat, agama, ras, dan antargolongan. Di masa kini, penerimaan dan penghargaan atas perbedaan itu mulai terkikis dengan satu atau banyak cara yang lain. Semngat keberagaman seperti bersatunya sapu lidi itu berangkali perlu direnungi kembali. (Kompas, 30/06/2012).
