Lompat ke konten
Home » Artikel » Keberagaman Di Tanah Cirebon

Keberagaman Di Tanah Cirebon

Sumber Foto: www.youtube.com

Oleh    : Cismanggali*
Editor   : Dias Alauddin 

Pelita Perdamaian, Cirebon daerah yang berada di wilayah pesisir tidak asing terdengar ditelinga bahkan mancanegara karena dikenal sebagai Kota Wali berarti tidak luput dari penyebaran Islam di tanah Jawa, Namun  Cirebon juga dikenal sebagai daerah yang beragam dari mulai suku, ras, agama, budaya, adat istiadat hingga dialek bahasa  yang bermacam-macam.  Pribumi Cirebon yang masih setia menggunakan “basa cerbon”  dalam kesehariannya, meskipun menggunakan bahasa yang sama, namun mereka tetap berbeda dalam mengucapkan kata dengan akhiran “a”, sebagian lagi menggunakan akhiran “o” yang diambil dari kata “kita” dalam bahasa Indonesia yang artinya “saya” . perbedaan itu sangat kental di Cirebon meski mereka berada dalam satu desa atau bertetangga desa, masyarakat Cirebon menjadi sangat beragam karena mendapat pengaruh dari dalam maupun luar lingkup, terutama dari Jawa dan Sunda.

Abad 15 masa kesultanan Cirebon dipimpin oleh Sunan Gunung Jati sebagai pemimpin Negara dan agama pada masa pemerintahannya memberikan suatu kelonggaran dan kebebasan terhadap rakyatnya untuk mendirikan rumah ibadah, seperti Klenteng Jamblang yang ada di Kabupaten Cirebon  merupakan hasil permintaan dari Babah Yo Ki Cit saat peresmian Masjid Sang Ciptarasa baru didirikan. Susuhunan Klenteng Jamblang (kayu penyangga utama), merupakan bagian dari soko guru (tiang utama Masjid Sang Cipta Rasa).

Nilai keberagaman di Cirebon semakin luas karena bisa dikatakan semua agama ada didalamnya mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Konghucu, dan aliran kepercayaan lainnya.  Masyarakat Cirebon juga ada yang berasal dari suku jawa, sunda, arab, tionghoa, dan masih banyak yang lainnya. Itulah mengapa disebut daerah pesisir utara Jawa Barat ini disebut Cirebon yang berasal dari kata caruban atau syarumban yang berarti percampuran. Dalam tradisi lokal sebenarnya toleransi menjadi dasar pijakan masyarakat untuk hidup rukun dengan yang berbeda agama dan keyakinan tergambarkan melalui makna  simbolisme atau ikon Paksi Naga Liman kereta kebesaran Sultan Kanoman Cirebon pemrakarsa Pangeran Losari pada Tahun 1350 Saka Jawa atau Tahun 1428 M pada awalnya dibuat untuk tunggangan Sunan Gunung Jati.

Demikian juga menurut pangeran Arya, carbon dalam naskah purwaka caruban nagari. Keberagaman itu disimbolkan juga dalam bentuk sebuah kereta kencana paksi naga liman. Paksi yang berarti hewan terbang semacam buroq yang mempresentasikan Islam, naga yang berarti simbol orang Tionghoa dan liman yang berarti gajah simbol dari orang-orang Hindu. Keberagaman masyarakat Cirebon selalu beriringan dengan budaya lokal, hal ini menegaskan bahwa leluhur  Cirebon sangat menghormati dan menjunjung tinggi perbedaan yang dikelola dengan baik dengan semangat persaudaraan.

Keberagaman masyarakat ditanah Cirebon ini mestinya menjadi contoh bagi daerah sekitar maupun mancanegara karena sesungguhnya perbedaan ataupun keberagaman itu sudah menjadi sunnatullah yang memang sudah ditakdirkan, . ” Bhinneka Tunggal Ika” merupakan semboyan final bangsa kita dalam memahami kekayaan perbedaan yang melatarbelakangi berdirinya Negara. Bahwa perbedaan yang dimiliki bangsa ini adalah sebagai kekuatan pemersatu dalam meraih tujuan bersama, sudah menjadi barang tentu masyarakat Cirebon harus menjaga dan melestarikan keberagaman yang ada didalamnya.

 


*Penulis adalah Pengurus Departemen Sosial Kemasyarakatan Pelita Perdamaian 2018 – 2020.

*Sumber Tulisan dari Buku Anak Muda Memaknai Perbedaan.