Lompat ke konten

Pelita Perdamaian

suasana kelas kitab kuningan; santri dan remaja klasis GKI Cirebon

Dari Kesederhanaan sampai Belajar Kitab Kuning

Pelitaperdamaian.com. selepas malam harinya, Jumat (31/03), Peserta live in dari GKI Klasis Cirebon (GKI Pamitran dan GKI Jatibarang) sudah perlahan melebur dalam iklim kehidupan pesantren. Hal itu terlihat saat makan malam, secara bersama-sama di jerambah (halaman pesantren) dengan puluhan santri lainnya.

Diskusi Dwi Mingguan: Hak Asasi Manusia dari Ragam Perspektif

pelitaperdamaian.com. Cirebon, Rabu 05-02-2017, kami sepakat untuk memulai diskusi Dwi Mingguan di gedung kesenian rarasantang dengan beberapa isu seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Bersamaan dengan matahari yang bersiap untuk tenggelam, di bawah rindang pohon kami… 

Inilah Cara Pelita Perdamaian ikut Pulihkan Banjir Cibingbin

Fahmina.or.id, Kuningan – Organisasi kepemudaan Pelita Perdamaian Cirebon menunjukkan kepedulian tinggi pada masa depan lingkungan, hal itu dibuktikannya dengan pemberian bantuan ratusan bibit pohon untuk korban bencana bajir bandang di Desa Ciangir Kecamatan Cibingbin, Rabu… 

Tantangan dan Tanggapan Islam dalam Menjawab Modernitas

Oleh: Yose Rizal Triarto

***

Pada tahun 1903, salah satu sarjana pakar keislaman dari Amerika Serikat, Duncan Black MacDonald (1863-1943) menulis bahwasanya Islam yang sekarang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan sistem pemerintahan konstitusi. Menurut dia, khalifah Islam tidak akan mendirikan suatu sistem pemerintahan yang mana sistem tersebut memungkinkan untuk melawan atau membatasi kekuasaan khalifah. Khalifah, sebagai penerus nabi seharusnya mempunyai kekuasaan yang absolut dalam memerintah.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Duncan tadi tentu saja tak semuanya benar. Terbukti beberapa tahun setelahnya, muncul gagasan yang berkebalikan dengannya. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi menyatakan bahwa mereka mendukung sistem pemerintahan konstitusi.

Sesungguhnya, timbulnya gagasan seperti tokoh Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi di atas tidak terlepas dari gerakan modernisasi Islam, yang mana gerakan ini muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh. Gerakan modernisasi Islam ini mencoba unutk menyesuaikan ajaran-ajaran dan prinsip Islam dengan nilai-nilai modern sekarang, seperti nasionalisme, demokrasi, konstitusi, penyelidikan ilmiah, dan nilai-nilai lainnya. Di sini tokoh-tokoh seperti di atas, melihat bahwasanya perbedaan tensi atau ketidak sesuaian ajaran Islam dengan nilai-nilai modern bukanlah disebabkan dari prinsip dasar Islam sendiri, melainkan lebih karena faktor historitas atau sejarah. Maka dengan munculnya era modernisasi dari barat, dan menyadari ketertinggalan ummat Islam dari bangsa-bangsa lainnya, gerakan modernisasi Islam ini menjadi sebuah kebutuhan dan kepentingan untuk Islam sekarang.

Meneladani Muhammad; Penebar Kasih yang Toleran dan Integralis

Oleh: Neneng Alfiah*

Sosok manusia agung dan mulia, ialah Muhammad SAW., yang menjadi tonggak kepemimpinan umat manusia dalam menyebarkan nilai-nilai dan ajaran islam bagi setiap bani adam. Muhammad adalah kekasih sekaligus utusan Allah bagi umat muslim di seluruh penjuru dunia. Pada hari ini, Kamis 24 Desember 2015, merupakan salah satu waktu yang diperingati umat muslim sebagai peristiwa paling bersejarah atas kelahiran tokoh panutan hidup bagi umat muslim, yakni peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kata maulid berasal dari bahasa arab yang berarti lahir.

Kelahiran Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul ‘Awwal. Muhammad lahir tepat pada Hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal di Tahun Gajah atau pada tanggal 22 April 571 Masehi. Bentuk dan waktu peringatan yang dilakukan umat muslim dalam memperingati Maulid Nabi pun berbeda-beda di setiap tempat. Ada yang berlangsung sangat meriah, dan ada pula yang berlangsung sederhana.

***

Menulis Perdamaian di Setaman (Sekolah Cinta Perdamaian)

Fenomena maraknya berita, tulisan dan video yang berhamburan di sosial media seputar menebar kebencian, ancaman, permusuhan dan kekerasan menjadi sisi gelap kehidupan ruang maya dewasa ini. Nyaris kita disuguhkan setiap detik, sejak bangun tidur sampai terlelap tidur lagi. Keadaan demikian, diperparah lagi dengan absennya negara dan kontrol masyarakat, bagaimana semestinya generasi bangsa mengonsumsi sesuatu yang positif dari dunia maya (baca internet).

Tentu saja, kita tak mungkin menolak segalanya yang berhubungan dengan perubahan pesat di ruang maya, karena ia tak pelak lagi menggiurkan: dengan beragam kecepatan dan kemajuan yang ditawarkan, bagaimana mengakses sebuah informasi. Namun, di sisi lain, lalu-lintas informasi yang berseliweran tersebut penting digarisbawahi: adakah generasi muda hari ini mampu berpartisipasi dalam kontrol yang positif terhadap ruang maya?

Pelatihan Hak-Hak Dasar Kewarganegaraan

Reportase Pelita Perdamaian *** Pelita Perdamaian berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan yang bertajuk “Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak kewarganegaraan” yang diselenggarakan oleh tim Ready (Respect and Dialog). sebuah konsorsium yang terdiri di dalamnya adalah Fahmina Institute,…