Lompat ke konten

pelitaadmin

Sepenggal Cerita Tentang Perbedaan

Oleh: Fina Idamatus Silmi

Hidup berdampingan, dengan penuh keharmonisan adalah dambaan semua orang. Kita dilahirkan ke dunia dengan mengemban misi penting dalam kemanusiaan. ruang-ruang belajar seperti yang saya praktikkan di PELITA.

Simfoni Malam Perayaan Imlek

Oleh: Raditiya Indira Padma

Pukul 20.00, tanggal 8 Februari 2016, hari Minggu pertama dalam bulan Februari, hujan telah reda, dan saya dan teman-teman sedikit bergegas untuk menuju Wihara Welas Asih dalam rangka ikut merayakan hari raya tahun baru Imlek. Ya, saya dan teman-teman dari PELITA Cirebon mendapat undangan untuk ikut merasakan suka-cita yang sedang dirasakan oleh saudara-saudara Tionghoa. Dan dengan senang hati kami memenuhi undangan tersebut sambil berharap-harap cemas apakah kami akan mendapatkan amplop berwarna merah dengan isi selembaran berwarna merah juga atau tidak. Dan ternyata tidak.

Ikeda, Agama dan Perdamaian*

Oleh: Syaiful Arif*

Di tengah ancaman konflik dan terorisme yang melanda negeri dan dunia, kita bisa belajar banyak dari pemikiran serta gerakan perdamaian yang dibawa oleh Daisaku Ikeda, Presiden Soka Gakkai Internasional (SGI). Artikel ini ditulis dalam rangka merefleksikan peran penting gerakan beliau, sebagaimana Proposal Perdamaian yang ditulis setiap tanggal 26 Januari untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Imlek: Sebuah Upaya Memahami Budaya dan Keimanan

Oleh: Pdt. Markus Hadinata* “Siapakah yang merayakan Imlek?”, “Bagaimana Imlek dirayakan pada konteks masa kini?”, lalu “Apakah orang Kristen diperkenankan ikut merayakan Imlek?” Ketiga pertanyaan ini melatarbelakangi penulisan lembar bina umat kali ini, sehubungan dengan… 

Pertemuan Bulanan ke-36 di Pesantren Kempek Cirebon

INSTITUSI PESANTREN sebagai basis pembelajaran dan produksi pengetahuan khazanah keilmuan Islam punya peran strategis dalam menyuarakan nilai-nilai perdamaian. PELITA berkesempatan mengunjungi dan bersilaturahmi dengan dunia pesantren yang berada di kawasan Gempol, Palimanan, Kabupaten Cirebon, melalui… 

Panjang Jimat dan Kearifan Lokal

Oleh: Haryono Direja “Panjang Jimat” diartikan secara sederhana sebagai ritus ekspresi kebudayaan masyarakat Cirebon.  Istilah tersebut diambil dari derivasi dua frase yang berbeda dari bahasa Cirebon, “Pajang” berarti memajang; memasang, sedangkan “Jimat” senantiasa lekat dengan… 

Tantangan dan Tanggapan Islam dalam Menjawab Modernitas

Oleh: Yose Rizal Triarto

***

Pada tahun 1903, salah satu sarjana pakar keislaman dari Amerika Serikat, Duncan Black MacDonald (1863-1943) menulis bahwasanya Islam yang sekarang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan sistem pemerintahan konstitusi. Menurut dia, khalifah Islam tidak akan mendirikan suatu sistem pemerintahan yang mana sistem tersebut memungkinkan untuk melawan atau membatasi kekuasaan khalifah. Khalifah, sebagai penerus nabi seharusnya mempunyai kekuasaan yang absolut dalam memerintah.

Pernyataan yang dilontarkan oleh Duncan tadi tentu saja tak semuanya benar. Terbukti beberapa tahun setelahnya, muncul gagasan yang berkebalikan dengannya. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi menyatakan bahwa mereka mendukung sistem pemerintahan konstitusi.

Sesungguhnya, timbulnya gagasan seperti tokoh Muhammad Abduh dan Mehmed Kamaluddin Effendi di atas tidak terlepas dari gerakan modernisasi Islam, yang mana gerakan ini muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh. Gerakan modernisasi Islam ini mencoba unutk menyesuaikan ajaran-ajaran dan prinsip Islam dengan nilai-nilai modern sekarang, seperti nasionalisme, demokrasi, konstitusi, penyelidikan ilmiah, dan nilai-nilai lainnya. Di sini tokoh-tokoh seperti di atas, melihat bahwasanya perbedaan tensi atau ketidak sesuaian ajaran Islam dengan nilai-nilai modern bukanlah disebabkan dari prinsip dasar Islam sendiri, melainkan lebih karena faktor historitas atau sejarah. Maka dengan munculnya era modernisasi dari barat, dan menyadari ketertinggalan ummat Islam dari bangsa-bangsa lainnya, gerakan modernisasi Islam ini menjadi sebuah kebutuhan dan kepentingan untuk Islam sekarang.

Program Departemen Sosial-Kemasyarakat PELITA di Srengseng Indramayu

Reportase Oleh: Ahmad Hadid

(Koordinator Dept. Sosial-Kemasyarakatan PELITA)

***

Sejak tahun 2014, PELITA menggagas program melalui Departemen Sosial dan Kemasyarakatan dengan tema besar, “Mendorong Budaya Gotong Rotong Warga”, meliputi: a) pemetaan kondisi sosial; b) pemulihan pasca bencana dan; c) trauma-healing, yang sudah dilakukan di beberapa titik lokasi di Indramayu dan Cirebon, di antaranya Desa Eretan Kulon, Jatibarang, dan Desa Sampih dan beberapa wilayah lainnya.

Kegiatan itu diimpelementasikan secara berkesinambungan, salah satunya melalui fogging, pada Rabu 06 Januari 2016,