Lompat ke konten

pelitaadmin

Memaknai Satu Muharram Untuk Perdamaian

Oleh: Ahmad Hadid* Memaknai satu muharram yang merupakan awal dari tahun Hijriah, mengingatkan kita kepada peristiwa hijrahnya rasul Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Perlu diketahui juga, peristiwa hijrah rasul bukan semata-mata berpindah tempat, melainkan… 

Singkil dan Media Kita

Oleh: Firdaus Mubarik Kekerasan pecah di Singkil, satu orang tewas dalam serangan terhadap gereja-gereja oleh kelompok Islam. Ini tak lama setelah kekerasan antar warga kristen dan islam terjadi di Tolikara, Papua. Saya selalu teratarik melihat… 

Menulis Perdamaian di Setaman (Sekolah Cinta Perdamaian)

Fenomena maraknya berita, tulisan dan video yang berhamburan di sosial media seputar menebar kebencian, ancaman, permusuhan dan kekerasan menjadi sisi gelap kehidupan ruang maya dewasa ini. Nyaris kita disuguhkan setiap detik, sejak bangun tidur sampai terlelap tidur lagi. Keadaan demikian, diperparah lagi dengan absennya negara dan kontrol masyarakat, bagaimana semestinya generasi bangsa mengonsumsi sesuatu yang positif dari dunia maya (baca internet).

Tentu saja, kita tak mungkin menolak segalanya yang berhubungan dengan perubahan pesat di ruang maya, karena ia tak pelak lagi menggiurkan: dengan beragam kecepatan dan kemajuan yang ditawarkan, bagaimana mengakses sebuah informasi. Namun, di sisi lain, lalu-lintas informasi yang berseliweran tersebut penting digarisbawahi: adakah generasi muda hari ini mampu berpartisipasi dalam kontrol yang positif terhadap ruang maya?

Pelatihan Hak-Hak Dasar Kewarganegaraan

Reportase Pelita Perdamaian *** Pelita Perdamaian berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan yang bertajuk “Hak Asasi Manusia dan Hak-Hak kewarganegaraan” yang diselenggarakan oleh tim Ready (Respect and Dialog). sebuah konsorsium yang terdiri di dalamnya adalah Fahmina Institute,… 

Pesan Perdamaian Dari Bilik Pesantren

Oleh: Imbi Muhammad* Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukukan sesuatu yang baik untuk semua orang, Orang tidak akan tanya apa agamamu, – KH. Abdurrahman Wahid *** Pesantren telah membuktikan bahwa keragaman daerah,… 

Spritualitas yang (di)pinggir(kan)

Oleh: Abdurrahman Sandriyanie Wahid Bagian 1 *** Pada mulanya, manusia merasa jenuh dan gelisah dengan jati-dirinya di dunia. Apa yang disebut “jati-diri” di sini, tak lain, merupakan sebentuk proses bagaimana menemukan, memutuskan dan menjalankan setiap… 

Memaknai Toleransi

Oleh: Ust.  Ahmad Hadid* Memaknai toleransi adalah belajar memahami diri sendiri. Dengan toleransi, kita tahu bahwa ada batas-batas ego sebagai manusia yang mesti dijaga. Begitulah awal pemahamanku tentang toleransi setelah aktif di Organisasi Pelita Perdamaian.… 

Surasa, Generasi Muda Sunda Wiwitan Meneguhkan Jati Diri

Pagi yang cerah, di semilir udara lereng gunung Ciremai, terlihat puluhan remaja putra dan putri memakai pakaian adat. Para Perempuan menggunakan baju khas Toro,berbalut kain batik. Para laki-laki menggunakan pangsi dan kampret serta ikat kepala…