Lompat ke konten

Artikel

Pertemuan Bulanan ke-39: Puasa Warga Cirebon, dari Obrog hingga Buka Puasa Lintas Agama

Oleh: Hasyim Al-Habsyi

PUASA Ramadhan merupakan kewajiban yang dititahkan Tuhan kepada umat Islam, sebagai sebuah kepatuhan dalam menjalankan syariat Nabi. Puasa memiliki relasi yang begitu personal, dan tentu saja intim dengan-Nya manakala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diejawantahkan dalam aspek kemanusiaan. Di ujung hari menjelang Ramadan di tahun ini, berakhir sudahkah ritus puasa kita menyublim dalam ritus kesalehan sosial pada kehidupan sehari-hari?

Ramadhan dan Anti Hoax

Oleh: Hasyim Al-Habsyi  Marhaban ya ramadhan. Sabtu 27 mei 2017 menjadi hari yang cukup menyita perhatian kita khususnya bagi kaum Muslimin. Karena telah di sepakati bahwa 1 ramadhan jatuh di tanggal tersebut. Tahun ini hampir… 

Perbedaan itu Bukan untuk Dijauhi: Refleksi “Nyantri” Anak-anak Remaja Gereja di Pesantren

 

[1] Ditulis oleh Pdt. Kukuh Aji Irianda. Pendeta Jemaat di GKI Pamitran, Cirebon.


Perkembangan toleransi antar umat beragama akhir-akhir ini, bagi saya, tidak menggembirakan. Dimulai dari isu penistaan agama di Jakarta, isu kemudian berkembang bentuknya menjadi kekerasan seperti bentrok antar ormas, bom molotov meledak di Gereja Kristen Oikumene Samarinda (Kaltim, 13/11/2016) dan Vihara Singkawang (Kaltim, 14/11/2016), serta yang terakhir adalah isu makar.

Isu penodaan agama di Jakarta agaknya juga diperkeruh oleh peran media yang begitu masif menyebarkan berita-berita yang sensitif ini secara nasional. Yang lebih menyedihkan lagi, hampir semua media di negri ini dikuasai oleh parpol tertentu. Yang terjadi bisa ditebak: (1) media dipakai untuk menjadi alat kampanye calon pilihan parpol si media. (2) Kejadiannya di Jakarta, tapi kami yang di daerah yang tidak tahu apa-apa, sangat merasakan dampaknya. Hubungan pertemanan dan tetangga yang tadinya baik, tapi jika bicara soal isu penodaan agama, bisa saling maki dan benci. (3) Energi negri ini seolah-olah habis hanya membicarakan soal isu satu ini. Dan bagi saya, media (yang tidak netral itu) ikut berperan serta menciptakan keadaan yang seperti ini.

Berangkat dari keadaan ini, tercetuslah kemudian sebuah gagasan bagaimana memerangi isu kebencian dan perpecahan antar elemen bangsa ini dengan cara yang damai. Bagi saya caranya satu: “Perbedaan itu bukan harus ditakuti, melainkan harus didekati.” Mungkin terdengar ekstrim. Tapi saya punya keyakinan bahwa setajam-tajamnya perbedaan, namun ketika dipertemukan, keduanya akan melihat bahwa kita adalah sama: manusia. Manusia yang butuh untuk disapa, didengar, diajak bicara, dihargai, dicintai. Semakin perbedaan dijauhi, maka pada saat yang sama rasa curiga dan prasangka akan semakin tinggi.

Meriahnya Tari Puspanjali Disambung Qasidah Perdamaian

keterangan foto: penampilan tarik Batik, dipentaskan oleh Tiga Srikandi (Wulan, Kinanti, Mira) asal Warga Adat Sunda Wiwitan, Kuningan Perbedaan latar belakang budaya dan keyakinan begitu terlihat. Tapi, sisi kontras itu seolah lebur dalam balutan kebhinekaan.… 

Tantangan Demokrasi di Era Digital

Oleh: Zain Al Abid

Di era digital saat ini, peran media sebagai elemen demokrasi tidak lagi sekadar sebagai anjing penjaga (watchdog) atas berjalannya fungsi-fungsi pemerintah­an. (Aliansi Jurnalis Indepeneden)

Peradaban kita hari ini berada pada masa tran­sisi ketika Internet hadir dan mengoyak beragam tatanan kehidupan masyarakat, termasuk media, baik secara ju­rnalistik maupun bisnis. Kita tiba-tiba dihadapkan pada pertumbuhan pengguna Internet dan perkembangan konten yang demikian masif bahkan koenten bohong (hoax) seolah tak terbendung di era digital saat ini.

Diskusi Dwi Mingguan: Hak Asasi Manusia dari Ragam Perspektif

pelitaperdamaian.com. Cirebon, Rabu 05-02-2017, kami sepakat untuk memulai diskusi Dwi Mingguan di gedung kesenian rarasantang dengan beberapa isu seputar Hak Asasi Manusia (HAM). Bersamaan dengan matahari yang bersiap untuk tenggelam, di bawah rindang pohon kami… 

Demokrasi dan Kebebasan Beragama-Berkeyakinan di Indonesia

Oleh: Haryono*
(wakil ketua umum Pelita Perdamaian)

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga Negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga Negara berpartisipasi baik secara langsung atau melalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.[1]

Kemeriahan 5th Anniversary PELITA: Syair Nasihat

5th Anniverrsary Pelita Perdamaian sebagaimana kelahirannya adalah pada 28 Oktober 2011, bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda. pada tahun 2016, penyelenggaran ulang tahun diadakan pada 5 November 2016, yang digelar di Gedung Kesenian Rarasantang Kota…