Lompat ke konten

Sejarah Keragaman & Identitas di Jawa Barat

Oleh: Abdurrahman Wahid

Jawa Barat, sebagai wilayah provinsi yang memiliki demografi cukup luas, memilki pula sejarah panjang bagaimana awal mula ia terbentuk. Secara lebih spesifik, Nurdin M Noor, budayawan asal Cirebon, membuka cakrawala pengetahun dengan tema materi “sejarah Identitas Jawa Barat”. Tema ini berangkat, salah satunya, merespon isu aktual yang tengah jadi perdebatan hangat di kalangan akademisi, tentang penggubahan nama Jawa Barat dengan nama provinsi Pasundan.

Sekolah Pengelolaan Keragaman (SPK) Ke-VII Jawa Barat*

Oleh: Abdurrahman Wahid*

PELITA.com- Program CRCS Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM), menyelenggarakan Sekolah Pengelolaan Keragaman (SPK), pada 28 November-04 Desember, di Kuningan Jawa Barat. SPK merupakan gugus program yang rutin dilaksanakan oleh CRCS UGM, yang inisiatif awalnya bertujuan mengintegrasikan dunia akademisi dengan kalangan aktivis. Pada kesempatan kali ini, kegiatan diikuti oleh peserta yang terdiri atas kalangan akademisi dan aktivis dari perwakilan masing-masing kota di Jawa Barat, seperti Bekasi, Bandung, Subang, Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi, Kuningan dan Cirebon itu, adalah SPK yang ke-VII

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Lio

Oleh: Diaz Alauddin (Peneliti, Pegiat PELITA) Mayoritas penduduk Desa Fatamari, dan Kelurahan Watuneso yang ada di Kabupaten Ende, serta Desa Bu Utara dan Desa Masebewa dari Kabupaten Sikka adalah beragama Katolik. Awal mula agama Katolik… 

Refleksi Hari Toleransi Internasional: Sebuah Pengantar

 Oleh: Pelita Perdamaian *** Adalah UNESCO yang pertamakali menggagas perhelatan Hari Toleransi Sedunia atau Declaration of Principles on Tolerance, pada tahun 1995 dan 1996. Tujuan dari perhelatan Hari Toleransi itu sendiri ialah memberikan kesadaran kepada… 

Bahtera Untukmu

Oleh: Lika Vulki

Di pesisir pantai Utara Aceh yang menjadi daerah industri, Lhokseumawe 23 tahun yang lalu sering disebut kota dolar. Di antara barisan pabrik penghasil pupuk Urea, minyak, dan kertas; ada sebuah keluarga kecil yang berasal dari Kuningan (Jawa Barat). 23 tahun silam saat masa-masa kejayaan Lhokseumawe, lahirlah seorang gadis mungil dari keluarga itu. Lika Vulki, begitulah nama yang diberikan oleh ayahnya.

Miniatur Indonesia

Oleh: Aulia Fauziah* *** Langit yang tertutup awan hitam menghantarkan langkahku ke sebuah gubug kecil yang indah nan bersih untuk beristirahat sejenak. Setiba di sana Aku hanya menggeletakan tasku di atas hamparan dingin. Dengan tas… 

Refleksi Hari Toleransi Internasional: Bedah Buku PELITA “Merayakan Perbedaan” Didiskusikan

“Beragama itu seperti Bola,” Tandas Dr. Siti Fatimah, M. Hum menerangkan. Pameo yang ia kutip bersumber dari seorang Pemikir Islam Kontemporer, Sayyed Hussein Nasr. Terdapat beberapa tingkatan kehidupan manusia dalam beragama: sejak maqom syariat, tarikat dan hakikat. Ketiganya saling terhubung seperti titik-titik jejaring dalam sebuah Bola. Titik terakhir yang menjadi pancaran (pusat) adalah Tuhan.    

Pertemuan Bulanan ke-31, Ulang Tahun PELITA ke-4 dan Penetapan Kepengurusan Baru

6 November 2015. Pada sore hari, saat mentari telah terbenam dan langit redup karena cuaca mendung. Tentu hal ini tidak menghalangi orang-orang yang hendak berdatangan dalam acara “pertemuan bulanan pelita”. Pertemuan bulanan kali ini bertempat di SMA Santa Maria Cirebon. Disambut dengan senyum manis biarawati yang mengarahkan setiap peserta menuju tempat pertemuan.

Menuju Hari Toleransi Dunia

*** Toleransi adalah bentuk penghargaan untuk berani hidup berbeda. Sebagian orang sepakat demikian. Sebagian lain mengatakan, ia merupakan bentuk ketulusan yang terus beranak-pinak dalam kebersamaan. Sebagian lainnya, beranggapan bahwa sikap toleransi sejak awal sudah ditanamkan…